Sunday, 10 September 2017

TINJAUAN PSIKOLINGUISTIK DALAM STRATEGI RESEPTIF PADA PEMBELAJARAN BAHASA: DUA STRATEGI DALAM RESEPTIF BAHASA DAN KONDISI RESEPTIF MENUJU PRODUKTIF

Terdapat beberapa orang yang bersikap skeptis mengenai apakah seseorang dapat menyadari diri terjadinya transfer bahasa yang mudah dan otomatis dari keterampilan reseptif menuju keterampilan produktif. Orang-orang yang seperti itu mungkin membenarkan keraguannya dengan cara memberikan contoh pembelajar bahasa yang sangat cekatan dalam keterampilan reseptif, terutama dalam hal membaca, tetapi juga secara total tidak mampu menghasilkan suatu ucapan spontan dalam bahasa target. Kasus-kasus seperti itu sangat umum dan seolah-olah menambah keyakinan bahwa pada dasarnya masing-masing harus dikembangkan secara sendiri sehingga kita dapat belajar berbicara dalam bahasa asing hanya dengan jalan memakainya dengan cara berbicara dalam bahasa tersebut. Jadi, kita mempunyai dua tipe data yang saling bertentangan: (1) data yang mengacu pada hasil studi eksperimental untuk menguji keefektifan masa prabicara, dan (2) data observasional yang mengacu pada kepandaian atau kecakapan para pembelajar bahasa hanya dalam mode reseptif.
Penelitian psikolinguistik pada prinsipnya telah menyatakan bahwa kedua proses atau strategi seperti itu ada pada kita yaitu strategi sintaktik dan strategi semantik (Clark & Clark, 1977: 57-85). Jika kita mengikut strategi sintaktik, maka kita menggunakan sarana sintaktik seperti kata fungsi, sufiks, prefiks, susunan kata, dan kategori gramatis kata- kata penuh (content words) untuk mengenali gatra-gatra yang lebih bersifat membangun. Sebaliknya, bila kita menggunakan strategi semantik maka kita menyandarkan diri pada kenyataan bahwa kalimat-kalimat yang kita dengan mengacu kepada objek-objek pertanyaan dan peristiwa-peristiwa nyata, dan harus mencocokkannya dengan wacana secara terus-menerus; oleh karena itu, kita memperlakukan kata-kata penuh. Jadi, dalam mengikuti strategi ini kita tidak hanya menyandarkan diri pada pengetahuan linguistik kita, tetapi juga pada pengetahuan kita mengenai sebaik wacana itu berkembang, maka kita akan mampu mengantisipasi dan memperkirakan apa yang hendak dikatakan oleh para pembicara. Yang harus diingat ialah bahwa para penyimak yang unggul dalam situasi komunikasi kehidupan nyata justru menggunakan kombinasi dari kedua strategi tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Sajaavara (1981 : 3), pemrosesan informasi takkan dapat dikoseptualisasikan dengan bantuan suatu model dimana informasi diproses secara hierarkis, dengan cara dari bawah ke atas, yaitu dari makna morfem tertentu (baik leksikal maupun gramatikal) sampai kepada makna kalimat. Malahan, suatu model pemrosesan hierarkis haruslah diperkirakan atau dimisalkan ada, tempat para penyimak menggunakan serta memanfaatkan secara serentak berbagai ragam informasi, baik yang bersifat linguistik maupun yang nonlinguistik.


Dari uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya kita tidak perlu memiliki kompetensi linguistik yang baik, terutama kompetensi gramatikal, untuk dapat membaca sandi atau pesan dalam memahami bahasa tertentu. Memang, beberapa kecakapan yang diperkaya oleh suatu bahan yang baik dari bidang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan topik yang dibahas akan dapat membantu dalam memahami maksud dalam komunikasi.

Setelah kita membahasa adanya dua strategi untuk memahami isi dalam proses membaca, kita akan membahas pula beberapa kondisi bagi transfer dari keterampilan reseptif menuju keterampilan produktif, di antaranya:
a.       Memperhatikan ciri formal bahasa kedua;
b.      Perangkat mental pembelajar dan frekuensi terjadinya butir-butir bahasa kedua


1. Ciri Formal Bahasa Kedua

Berbicara mengenai transfer dari keterampilan reseptif menuju keterampilan produktif, kita harus ingat bahwa faktor penting yang menentukan apakah transfer ini akan terjadi, tidak hanva berkaitan dengan intensitas latihan atau praktik tetapi juga cara pelaksanannva. Jika para pembelajar melaksanakan  suatu kegiatan memahami isi bacaan dalam bahasa target menggunakan strategi semantik dan secara konsekuen bersikap tak acuh pada ciri formal pesan tersebut, maka takkan ada kesempatan bagi ciri tersebut akan menaif bagian dari kompetensinya dalam bahasa kedua. Untuk meraperoleh ciri formal tersebut maka para pembelajar harus memperhatikannya secara sadar. Perhatian yang sadar tidak perlu berarti bahwa pemusatan pehatian itu melibatkan kesadaran metalinguistik, walaupun dalam beberapa pembelajaran dan bagi beberapa pembelajar aplikasi pengetahuan eksplisit terhadap menyimak dan tugas membaca mungkin membuat proses pembelajaran lebih efisien. Ciri formal yang kita maksudkan tidak hanya mencakup ciri gramatikal murni, tetapi juga ciri-ciri yang ada kaitannya dengan sistem leksis, seperti derivasional, frasologi, dan kolokasi.
2.     

                    2. Perangkat Mental Pembelajar

Kondisi penting lainnya yang harus diperhatikan dalam berlangsungnya transfer dari aktivitas reseptif menuju aktivitas produktif berkaitan dengan "apakah para pembelajar memiliki perangkat mental layak". Para pembelajar harus sadar akan fakta bahwa salah satu tujuan menyimak atau membaca adalah ingatan akan materi linguistik sebanyak mungkin bagi penggunaan produktif selanjutnya. Walaupun tidak begitu jelas apakah tujuan mengingat/menghafal itu benar-benar memberi kemudahan bagi ingatan bahan-bahan yang dipelajari, justru yang pasti ialah bahwa hal itu membuat proses pembelajaran itu sendiri jauh lebih efisien (Ausubel, 1968 : 386). Para pembelajaran yang memiliki maksud/ tujuan seperti ini sebenarnya mencoba mempelajari bahasa sementara dia menyimak ataupun membaca teks. Dia menyimak secara sangat aktif, menaruh perhatian yang sangat besar pada berbagai ciri gramatikal, mengadakan berbagai perbedaan terhadap butir-butir leksikal, secara sadar mendaftarkan kolokasi dan unit-unit frasaologis dalam ingatannya. Perangkat pembelajaran yang hebat ini mungkin menyebabkan para Pembelajar terjerumus ke dalam latihan mental yang samar tersembunyi dan terdiri atas repetisi atau ulangan diam-diam dan latihan diam-diam bagi butir-butir, frase, dan kalimat 

Dan faktor penting lainnya yang turut menentukan apakah suatu butir terjadi dalam tugas menyimak atau membaca akan menjadi dapat ditransfer kepada kegiatan produktif adalah "frekuensi terjadinya dalam tugas-tugas reseptif tersebut". Kenyataan ini, mungkin dapat diterima dengan menganalogikannya dengan PB1 (pemerolehan bahasa pertama), di mana sering munculnya bahasa yang dilafalkan para anak, dianggap oleh beberapa peneliti sebagai faktor penting dalam memperkirakan betapa cepat atau lambannya bahasa tersebut diperoleh (Hatch, 1983:54). Dengan demikian, dapat diharapkan bahwa semakin sering penggunaan bahasa tersebut dalam tugas reseptif, maka semakin siap pula pelaksanaan transfer pada kegiatan-kegiatan produktif. Beberapa temuan empiris mutakhir khususnya yang berkaitan dengan pengajaran kelas bahasa kedua yaitu sepenuhnya telah memperkuat asumsi ini (Hamayan & Tucker, 1980).

No comments:

Post a Comment