Sunday, 10 September 2017

TINJAUAN PSIKOLINGUISTIK DALAM STRATEGI RESEPTIF PADA PEMBELAJARAN BAHASA: PENGURAIAN FAKTA YANG MEMPERKUAT HIPOTESIS PEMEROLEHAN BAHASA

Berbagai penelitian mengenai pemerolehan bahasa kedua (B2) memperkuat keyakinan yang mengemukakan bahwa keseluruhan kompetensi bahasa dapat dikembangkan secara baik dengan mempraktikkan atau melatih kegiatan reseptif. Stephen D. Krasken adalah salah satu ahli yang berpendapat mengenai keyakinan tersebut. Dalam "hipotesis pipa masck" atau intake hypotesis-nya yang terkenal itu, Krashen menyatakan bahwa berbicara dan menulis tidaklah esensial bagi pemerolehan dan bahwa seseorang dapat memperoleh kompetensi dalam bahasa pertama atau bahasa kedua tanpa sama sekali menghasilkan sesuatu di dalamnya. Walaupun Krashen (dan beberapa riset sama-sanu sependapat mengenai sudut pandangnya itu) mengikuti  bahwa peranan penting kegiatan reseptif dalam pemerolehan bahasa hanyalah merupakan suatu hipotesis, tetap saja terdapat juga fakta-fakta kuat  yang memperkuat hipotesis ini. fakta-fakta tersebut berasal dari 3 sumber.
Pertama adalah riset pemerolehan bahasa pertama (PB1) yang telah mengemukakan bahwa dalam perkembangan bahasa anak, reseptif/pemahaman/komprehensif selalu mendahului produksi. Dijelaskan bahwa seorang anak memperoleh bahasa ibunya secara normal, mendemonstrasikan komprehensi atau pemahaman ucapan paling sedikit enam bulan lebih dahulu daripada pendemonstrasian kesiapannya untuk berbicara (Lenneberg, 1967). Ini menunjukkan bahwa para anak tidak mulai berbicara secara serentak dengan permulaan memahami bahasa tetapi justru dia pertama kali mengembangkan kompetensinya melalui menyimak dan apabila dia mulai membuat ucapan-ucapan pertamanya justru dia memanifestasikan kompetensi yang telah diperolehnya. Kenyataan bahwa produksi tidak perlu bagi perkembangan kompetensi juga diperkuat oleh anak tunawicara yang tidak pernah menjadi defisien dalam pemahaman mereka terhadap bahasa yang dikemukakan pada mereka (Lenneberg, 1962).

Kedua adalah aktivitas reseptif memang pada prinsipnya bersifat antropologis dan berkaitan dengan telaah Sorenson mengenai multilinguisme di daerah Amazon barat laut. Dalam studinya itu (1967), Sorenson memerikan suku-suku Indian yang hidup di daerah Sungai Vaupes; di daerah itu terdapat sekitar 20 bahasa yang tidak saling dimengerti satu sama lain. Suku-suku tersebut semuanya mempunyai struktur perkawinan eksogamik: mereka selalu kawin di luar kelompok suku dan bahasa mereka. Sebagai akibat dari hal tersebut, maka mereka semua mampu berbicara paling sedikit dalam tiga bahasa. Kenyataan tersebut menunjukkan keberhasilan yang sangat tinggi bagi para pembelajar bahasa dalam memperoleh suatu bahasa baru dengan cara reseptif sepenuhnya, dengan cara menyimaknya dan secara pasif mengingat daftar kata-kata, bentuk-bentuk kata, dan frase- frase dalam bahasa tersebut. Mereka mulai berbicara dengan bahasa baru itu hanya apabila mereka telah siap mengembangkan suatu tingkatan kompetensi yang agak tinggi di dalamnya dan apabila mereka dapat membuat ucapan-ucapan secara alamiah dan secara mudah (cf. Hakuta, 1986: 176 -77).
Ketiga adalah beberapa metode pengajaran kontemporer yang didasarkan pada implementasi prinsip reseptif. Metode-metode tersebut, dikembangkan oleh para pendidik bahasa seperti Asher (1969), Postovsky (1974), Winitz dan Reeds (1973), Gary (1974), dan Nord (1980), yang memasukkan periode prabicara agak lama pada permulaan telaah bahasa. Selama masa prabicara ini para pembelajar secara intensif diperkenalkan dengan bahasa sasaran melalui partisipasi dalam berbagai aktivitas reseptif tetapi tidak dituntut bahkan tidak diperbolehkan menghasilkan sesuatu di dalamnya. Para pembelajar beresponsi terhadap pengajaran yang mereka terima dengan cara nonoral karena para pengajar harus mengadakan beberapa kontrol mengenai proses pembelajaran tetapi tujuan pokok atau maksud utama responsi-responsi para pembelajar memproses masukan tersebut secara bermakna. Oleh karena itu, responsi dibatasi pada pelaksanaan instruksi-instruksi dan perintah yang diberikan dalam bahasa sasaran, pada pelaksanaan ujian pilihan berganda yang didasarkan pada syarat-syarat bergambar atau pada cara pembelajar beresponsi dalam bahasa ibu mereka. Keefektifan metode- metode ini dan tuntutan bahwa semua itu pada dasarnya menuju kepada Perkembangan keterampilan produktif telah diuji dengan beberapa studi empiris, misalnya yang dilakukan oleh Postovsky (1974; 1977).

No comments:

Post a Comment