Sunday, 10 September 2017

STRATEGI RESEPTIF DALAM PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA

Strategi reseptif adalah salah satu dari keempat jenis strategi pengajaran bahasa yang dikemukakan oleh Marton (1988:2). Strategi reseptif pengajaran bahasa mencoba menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan oleh para pembelajar. Biasanya, strategi pembelajaran yang dimaksud terdiri atas proses measukan yang diam tanpa produksi sesuai ucapan dalam bahasa sasaran. Strategi pembelajaran yang seperti ini dapat juga dipandang sebagai suatu manifestasi strategi abdi-ordinat (super-ordinat) pemerolehan bahasa yang biasanya dibatasi sebagai formal dan tes hipotesis. Akan tetapi, dalam hal ini tes hipotesis tidak berkaitan dengan umpan balik yang mengikuti upaya para pembelajar dalam berkomunikasi, tetapu justru didasarkan pada observasi masukan bagi konfirmasi atau nonkonfirmasi dari hipotesis para pembelajar.
Kita harus benar-benar memahami bahwa kondisi dasar yang harus dipenuhi dalam strategi pembelajaran ini ialah bahwa masukan itu harus bermakna, atau dengan kata lain harus dapat dipahami oleh para pembelajar. Dengan demikian, jelas bagi kita bahwa strategi resptif ini didasarkan pada keyainan bahwa kita tidak mempunyai dua kompetensi bahasa yang terpisah, yang satu berkaitan dengan resepsi dan yang lain berkaitan dengan produksi. Akan tetapi, ada suau kompetensi linguistik global yang mendasari kegiatan-kegiatan reseptif maupun produktif.  Jika kita kaitkan dengan keterampilan berbahasa, hal ini jelas melibatkan keyakinan bahwa sebenarnya ada transfer langsung dari keterampilan reseptif menyimak dan membaca dengan keterampilan produktif berbicara dan menulis. Dengan kata lain, strategi reseptif didasarkan pada asumsi bahwa dengan memperkenankan para pembelajar pada tuturan yang bermakna dan teks-teks tertulis serta dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan reseptif menyimak dan membaca mereka dengan cara ini, kita pun mengembangkan potensi dan kesiapan mereka untuk berbicara dan menulis.

Sepertinya tidak meleset jika kita mengatakan bahwa strategi apa pun yang digunakan dalam pengajaran bahasa, kita para pengajar mempunyai tujuan agar para pembelajar terampil berbahasa, yaitu terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keberhasilan pengajaran bahasa agaknya dapat dilihat pada tingkat keterampilan berbahasa anak didiknya. Keterampilan berbahasa tersebut telah dijelaskan pada uraian di atas. Sebagai gambaran jelasnya dapat kita amati bagan berikut.



Artikel ini diadaptasi dari buku Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa yang ditulis oleh Henry Guntur Tarigan tahun 2009. Tulisan ini bertujuan untuk memperluas hasanah ilmu pengetahuan pembelajaran bahasa. Hal tersebut didasarkan atas kepedulian penulis blog ini akan pembelajaran bahasa.

No comments:

Post a Comment