Tuesday, 29 August 2017

MACAM STRATEGI PENGAJARAN BAHASA

Seperti yang telah kita ketahui bahwa istilah pengajaran berbeda dengan pembelajaan. Pengajaran diartikan sebagai proses mengajarkan siswa/seseorang dari tidak memahami menjadi mampu memahami tentang sesuatu. Pengajaran juga diartikan sebagai proses pembentukan perilaku berbudi luhur. Pembelajaran diartikan sebagai proses “membelajarkan” dalam rangkan pemberian pengetahuan dan pembentukan karakter. Tentunya istilah di atas selalu disandingkan dalam bidang pendidikan. Kajian kedua istilah ini pun menjadi berbeda. Dalam tulisan ini, secara khusus dijabarkan tentang macam Strategi Pengajaran Bahasa. Sudah jelas bahwa fokus dari tulisan ini adalah macam dari strategi dalam pengajaran bahasa. Pengembangan dari tulisan ini diadaptasi dari buku Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa yang ditulis oleh Henry Guntur Tarigan tahun 2009 halaman 6—10.
Stren (1975:305) telah mengemukakan adanya sepuluh jenis strategi yang tutur memengaruhi keberhasilan pengajaran dan pembelajaran bahasa. Kesepuluh strategi tersebut adalah (1) strategi perencanaan: gaya pembelajaran pribadi; (2) strategi empatik: pendekatan yang penuh toleransi dan ramah; (3) strategi aktif: pendekatan aktif terhadap tugas-tugas pengajaran; (4) stategi eksperimental: pendekatan metodis dan fleksibel mengembangkan bahasa baru dalam suatu sistem yang teratur dan secara konsta memperbaikinya; (5) strategi formal: keterampilan teknis yang berkaitan dengan bahasa formal; (6) strategi semantik: secara konstan mencari makna suatu kata, frasa, dan lainnya; (7) strategi praktis: keinginan besar untuk mempraktikkan bahasa yang sedang dipelajari; (8) strategi komunikasi: keinginan untuk memakai bahasa yang sedang dikuasai dalam komunikasi tertentu; (9) strategi pemantauan: memantau sendiri dengan sensitiritas kritis terhadap pemakaian bahasa; (10) strategi internalisasi: mengembangkan bahasa kedua secara terus-menerus sebagai suatu sistem acuan tersendiri dan belajar berpikir di dalamnya. Untuk lebih jelasnya, dapat kita pahami dari bagan di bawah ini.



       

            Beberapa taun kemudian Stren berupaya mengetengahkan enam strategi utama pengajaran bahasa yang dinyatakan dalam pasangan sebagai tiga parameter, yaitu
(a)    Dimensi intralingualcrosslingual, berkenaan dengan pemakaian atau tanpa pemakaian bahasa perta dalam pembelajaran bahasa kedua.
(b)   Dimensi objektif—subjektif bersumber dari akibat adanya dilema komunikasi sandi. Ii mengacu kepada kemungkinan memperlakukan bahasa dan budaya sasaran sebagai studi objek dan objek studi serta penguasaan atau sebagau sesuatu yang dialami secara subjektif melalui pertisipasi dalam kontak pribadi atau tindakan komunikatif.
(c)    Dimensi eksplisit-implisit berkaitan dengan teknik-teknik yang mendorong para pembelajar mengadopsi bahasa baru sebagai suatu pendekatan kognitif atau penalaran.
Dari uraian di atas jelaslah adanya enam strategi utama pengajaran bahasa, yaitu
(1) strategi bahasa-silang : budaya silang, komparatif;
(2) strategi intralingual : intrakultural, nonkomparatif;
(3) strategi objektif      : analitis, formal, berpusat pada bahasa;
(4) strategi subjektif    : eksperiensial, fungsional, berpusat pada pesan, partisipatori
(5) strategi eksplisit: kognitif, pembelajaran (learning)
(6) strategi implisit: nonkognitif, pemerolehan (equisition), intuitif: otomatis.

 





Para pengajar seharusnyaa tidak boleh lupa bahwa mereka mengajar insan secara keseluruan, dan sudah sepantasnyalah setiap proses pengajaran harus membuat baik para pembelajar maupun para pengajar sehingga lebih kaya secara emosional dan memiliki pengertian yang lebih banyak. Tanggung jawab utama kita sebagai pengajar kepada para pembelajar asuhan kita adalah memberi kepada mereka sarana atau alat baru yang dapat mereka gunakan untuk berkomunikasi dan mengalami bidang-bidang kehidupan yang sampai kini belum dikenal. Dan kita juga harus mengingat bahwa dalam kehidupan yang sebenarnya, di mana waktu, energi, dan sumber keuangan para pembelajar kita sangat terbatas, pengajaran bahasa haruslah menunjukkan kriteria keefisienan. Dan ini berarti bahwa pada tingkat mana pun kita mengajar, akan jelas bagi kita dan juga kepada para pembelajar bahwa mereka membuat kemajuan yang pesat dan menggunakan waktu belajar mereka di kelas sebaik-baiknya.

No comments:

Post a Comment