Monday, 7 August 2017

K-13, Apakah Terus Berpolemik?

Seperti yang telah diketahui, pendidikan di Indonesia mengalami beberapa perubahan kurikulum untuk sebagai wujud prinsip dan dasar pendidikan yang harus selalu berkembang. Lalu, salahkah jika kurikulum setiap periode diubah? Jawabannya adalah “tidak salah”. Harusnya kurikulum memang harus selalu berkembang mengikuti perkembangan Iptek dan globalisasi. Hal tersebut tentunya menuntuk para pakar dan praktisi pendidikan untuk selalu mempersiapkan diri dalam menyukseskan kurikulum yang dirumuskan oleh pemerintah. Tentunya, guru sebagai abdi negara berposisi sebagai garda terdepan dalam pelaksanaan dan pengawalan jalannya kurikulun yang telah dirumuskan sehingga tujuan atau misi pendidikan dapat tercapai dengan baik.
Lalu, mengapa dalam berita yang berkembang banyak guru yang mengeluhkan hasil rumusan K-13 yang telah diputuskan sekitar tahun ajaran 2014/2015 harus mulai digunakan? Keluhan-keluhan tersebut tentu akan membuat penerapan K-13 tidak sepenuh hati. Akibat yang timbul dari adanya keluhan itu adalah adanya protes untuk mencabut kembali K-13 menjadi KTSP lagi. Hal tersebut tentunya harus disadari bahwa memang wajar kurikulum diubah. Akan tetapi, harus sesuai dengan kebutuhan dan range visi pendidikan nasional. Jika dianalisis dari penerapan K-13, implementasi K-13 terkesan dipaksakan. K-13 dianggap tidak matang sebelum diterapkan sehingga kebingungan secara substansial terjadi dalam pendidikan kita pada range 2014—2016. Hal tersebut tentunya berefek pada siswa. Siswa menjadi korban, animo itulah yang berkembang selama polemik awak penerapan K-13.
Dari masalah yang berkembang, pemerintah di tahun ini berniat untuk melakukan revisi atas K-13. Secara otomatis, K-13 direvisi lagi sebagai penyempurnaan atas penerapa K-13. Di sisi lain, animo yang muncul dari adanya kebijakan revisi K-13 itu adalah kesan bahwa ganti menteri pendidikan, kebijakan (kuriulum) pendidikan juga ganti. Betapa mirisnya mengetahui animo tersebut. Sebagai seorang yang peduli akan pendidikan, tentunya janganlah pendidikan ini dijadikan sebagai “proyek” (animo yaang berkembang juga begitu). Korban dari itu semua adalah anak bangsa yang saat ini mengenyam pendidikan dasar—menengah.

Solusi yang mungkin bisa diajukan adalah dibentuknya tim ahli pendidikan yang ditunjuk oleh perkumpulan-perkumpulan tentang kependidikan. Tim itulah yang menjadi ahli di Kemendikbud  dalam bidang pengembangan kurikul berkelanjutan. Tim itu tidak terinverensi atas birokrasi dalam Kemendikbud sehingga rekomendasi rekomendasi dari tim yang terbentuk berdasarkan atas kebutuhan masyarakat dan range visi pendidikan Indonesia. Tim itulah yang menjadi dasar peletakan pengembangan kurikulum pendidikan sehingga harapan atas pendidikan dalam jangka waktu panjang dapat terealisasikan.

Solusi itu didasarkan atas perbandingan kurikulum pendidikan Indonesia dengan kurikulum pendidikan Finlandia. Kurikulum pendidikan Finlandia berdasarkan atas tim ahli pendidikan yang mengamati, meneliti, dan menganalisis kebutuhan pendidikan Finlandia sehingga terbentuklah bentuk pengembangan kurikulum yang sangat baik sampai dinyatakan sebagai pedidikan terbaik di dunia. Harapan dari pembentukan tim ahli tersebut adalah terbentuknya pengembangan kurikulum berkelanjutan yang berorientasi pada visi pendidikan dalam jangka panjang.

No comments:

Post a Comment