Monday, 28 October 2013

Bulan Bahasa Milik Siapa?


Bahasa kita, bahasa Indonesia, memiliki suatu keunikan yang mungkin bahasa lain tidak dapat dapat menyamainya. Bahasa Indonesia dikukuhkan menjadi bahasa nasional tanpa ada pertumpahan darah dan tanpa adanya korban jiwa. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia memiliki bahasa  daerah yang sangat banyak dan penutur bahasanya juga banyak. Akan tetapi, ketika bahasa Indonesia dikukuhkan menjadi bahasa nasional tidak ada perselisihan tentang pemilihan bahasa nasional. Hal itu disebabkan bahasa Indonesia sudah dikenal hampir seluruh mayarakat Indonesia dan digunakan sebagai sarana komunikasi antardaerah.
Pengukuhan itu terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928 dengan pencetusan sumpah pemuda sebagai tonggak disahkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Berkaitan dengan hal tersebut, setiap tanggal 28 Oktober masyarakat merayakan hari sumpah pemuda sebagai hari bersejarah. Pada bulan Oktober 1984, Bahasa Indonesia yang muncul bersamaan dengan lahirnya sumpah pemuda mulai diperingati setiap tanggal 1—31 pada Oktober.

Peringatan bulan bahasa tersebut dapat diisi dengan kegiatan-kegiatan kebahasaan. Misalnya penyuluhan bahasa Indonesia, penyebarluasan bahasa Indonesia baku, lomba keterampilan berbahasa, atau kampanye bahasa Indonesia yang benar. Kegiatan-kegiatan kebahasaan itu dilakukan agar bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat diterapkan pada khalayak umum dan kesalahan atau penyelewengan bahasa Indonesia dapat diminimalisirkan.
Sebagai masyarakat Indonesia, kita adalah pemilik sah dari bahasa Indonesia. Sudah sepatutnya kita menjaga kelestarian bahasa Indonesia dan turut berpartisipasi dalam pengembangan bahasa Indonesia. Karena kita pemiliki sah bahasa Indonesia, bukankah kita harus bersenang hati menyambut ulang tahun bahasa kita.
Pada bulan ini, Oktober, adalah bulan kelahiran bahasa kita. Apa yang kita persiapkan dan apa yang kita lakukan untuk menyambut ulang tahun bahasa kita? Rasanya pertanyaan itu akan menjadi menyedihkan jika masyarakat Indonesia sendiri tidak begitu tahu apa yang disebut bulan bahasa dan kapan bulan bahasa Indonesia.
Peringatan bulan bahasa sempat menuai dampak yang positif ketika ada instruksi tentang penggunaan nama instansi yang berada di Indonesia harus menggunakan bahasa Indonesia. Dari instruksi tersebut, banyak nama instansi yang diganti ke dalam bahasa Indonesia. Jika dilihat dari dampaknya, penggunaan bahasa Indonesia semakin meluas baik penamaan instansi atau istilah yang digunakan. Selain itu, kecintaan terhadap bahasa Indonesia semakin terlihat.
Saat ini, ketika kita melihat nama toko dan swalayan, pemilik toko atau swalayan merasa bangga menggunakan nama asing. Ketika kita berjalan di mal, banyak kita temukan tulisan bahasa asing (inggris lebih banyak) dipasang pada setiap tempat. Jika ditelaah lebih lanjut, orang asing tidak akan berminat belajar bahasa Indonesia karena mereka sudah memahami informasi dalam bahasa mereka. Sebenarnya kita tuan rumah, mengapa kita yang menundukkan bahasa Indonesia kepada orang asing? Bukankah seharusnya kita menunjukkan sikap bahwa orang asing yang ke Indonesia haruslah dapat mengerti bahasa Indonesia.
Kembali pada peringatan bulan bahasa, rasanya hanya kelompok ahli bahasa Indonesia saja yang mengerti bulan bahasa dan selalu bersuka ria menyambut datangnya bulan bahasa. Buktinya, tidak ada perubahan dan dampak yang begitu berarti bagi bahasa Indonesia saat atau setelah datangnya bulan bahasa. Peringatan bulan bahasa seharusnya dimeriahkan oleh masyarakat Indonesia karena bahasa Indonesia adalah milik masyarakat Indonesia. Siapa yang menggunakan bahasa Indonesia? Bahasa Indonesia milik siapa? Setelah itu, bulan bahasa bahasa miliki siapa?
Jika bulan bahasa Indonesia hanya miliki ahli bahasa Indonesia, apakah kita boleh mengatakan bahasa Indonesia hanya milik ahli bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia hanya digunakan oleh ahli bahasa Indonesia saja? Jika hal itu benar, tampaknya nasionalisme kita perlu dipertanyakan karena bahasa adalah salah satu identitas bangsa.
Pada momen bulan bahasa Indonesia kali ini, setidaknya kita harus meningkatkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia. Kalau tidak kita, siapa lagi? Kebanggaan terhadap bangsa dapat diwujudkan dengan menjujung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa nasional. Salah satu punahnya suatu bahasa adalah tidak adanya penutur yang menggunakan bahasa itu. Apakah kita rela kalau bahasa Indonesia kita punah? Oleh karena, tetap nomor satukan bahasa Indonesia di negera kita. Salam Bahasa dan Budaya!!!

2 comments: