Monday, 25 February 2013

Orgasme Sajak XVII


AKU MENANTI SEJUKMU
(Imas Izfatur R)

/1/ Aku menanti sejukmu dalam tetesan embun
Syair-syair di pagi hari
Nyanyian alam sabda bumi

/2/ Sehelai daun kering, mengirim rindu pada angin
Menari bersama waktu bertandang di hatiku
Kupeluk gunung, ku peluk samudera untuk datang di bumi katulistiwa

/3/ Kau yang aku ciptakan dalam mimpi
Seperti seorang pemimpi di kaki pelangi
Ingin ku berteriak “ku rindu kau” dan aku
Tetap ingin setia pada sesalku

/4/ Aku merintih pada samudera, menantimu….
Bagai petualang merasa sepi sendiri di gelapnya hari
Inikah sikssa dan luka yang kau kirim pengganti cinta?

/5/ Aku tak ingin bertemu matahari
Aku tak mau melihat senja
Aku tak kuasa bertemu malam
Aku menanti sejukmu dalam tetesan embun
Syair-syair di pagi hari
Nyanyian alam sabda bumi




IBU
(Imas Izfatur R)

Untuk ibundaku tercinta

Dari September, hingga Mei
Adalah kabar bahagia untukmu dan suamimu
Berupa darah kau bersyukur
Berupa  daging kau tunggu hingga menjadi tulang-belulang

Sembilan bulan, menanti doa dan harapan
Kau berjuanh melawan maut
Berteriak sebebas camar
Bagai nelayan menembus badai
Seperti karang menunggu ombak

Suara Adzan dikumandangkan, pada si telanjang
Yang bernyanyi tanpa melodi
Memberikan makna hidupnya

Ia ukur mimpi di kelaminnya
Menata cita-citanya
Anaknya bagai firdaus kehidupannya
Surga memang di telapaknya


LIMA HARI DI KALIPASIR
(Imas Izfatur R)

Hari pertama
Kita bertemu, namun terasa asing bagimu
Katamu terlalu lelah menyaksikan kesadaran
Hanya gerimis yang mengingatkanmu pada
Daun-daun yang luruh oleh angin

Hari kedua
Para pelancong bermain lakon-lakon
Menjadi para bayangan hitam kelam
Aku menatap kain yang berwarna
Menjelaskan aku tentang semua
Bahwa pertemuan ini hanya riwayat
Yang tak perlu dicatat

Hari ketiga
Kau diam, seribu tafsir aku tlah tanggalkan
Tak ada kenangan matahari ataupun rembulan
Hanya sajak-sajak yang kini kudengar

Hari keempat
Perjalanan ini menjadi emas dalam jejak-jejakku
Yang ku ukir dalam goresan duka nan suka
Menjadi tragedy atau hanya sebait komedi

Hari kelima
Kau masih tenang dengan rasa jemumu
Taukah kamu senja tlah mengganti matahari
Dem sekali saja untuk selamanya
“maafkan aku kalau bertemu, lalu asing bagimu”


BELIBIS PUTIH
(Nuril Faidah O)

Aku adalah perempuan
Kehilangan muara suci
Antara suara mesra mencari sayap patah
            Aku adalah perempuan
            Mengarungi zaman kejam
            Melintas cakrawala
Kelyar garis batas warna
Aku adalah perempuan
Kembali, tidak kuasa
Menghirup udara kotor di seberang
            Aku adalah perempuan
            Rindu rayuan raja
Kini kudengar, berkata: “Rupanya sang angin ingin menyapa belibis putih yang kehujanan. Sekarang dia kulihat sangat indah, ketika dia sudah mengeringkan tubuhnya dengan hangat mentari. Berusaha kembali mengepakkan sayap dan menunjukkan bulu indahnya. Angin habis itu kembali menjadi semilir yang sejuk. Akupun berkata pada angin habis pujian ini untuk seseorang yang menjelma Belibis Putih. Indah kembali engkau menantan hidupdengan keanggunanmu, Belibis Putih, yang senyummu menyinarkan kembali cahaya mentari, kumenyayangimu Belibis Putih.”
            Aku telah berdiri
            Tepat di depan pintu istanamu, raja
            Blibis Putihmu



AKU MERINDUKAN HUJAN
(Nuril Faidah O)

Rintik tenang mampu kuyupkan aku
Serbuan damai enggan langkahkan kakiku
Harusnya bergegas tumpahkan lenyap
Merayap tiada penat, hingga terpejam
Guyuran yan bergantian menuduh senyap
Panas tanpa sejuk
Harusnya aku mengenal butiran darimu
Agar rinduku mancair
Tanpa dibuai puja
Berharap menempuh roh yang takpernah kulihat
Tak pernah kuraba
Tak dapat kusentuh
Namun selalu ada dalam naungan do’a-do’a
Aku merindukan hujan
Dari pemikir kelam, kelam, kelam
Ubah samudera kering
Banyak yang bilang kelam, kelam, kelam,
Coba teliti kelam, kelam, kelam
Kelam yang kurindukan
Tanyakan pada surya yang tak tergoda
Tanyakan pada langit biru yang teguh
Kenapa?
Aku merindukan hujan
Apakah yang kupijak
Atau udara tak lagi mengimbangiku
Hingga pengap
Membunuh

AWAN
(Nuril Faidah O)
“Awan…!”
Ketika itu tertegun dengan penuh Tanya
Tiada tangis seindah, tangismu
Rasanya tersentak bila kau dengar
“Awan…!”
Mudah sekali merindukanmu
Membagi rasa sebesar ini
Takkan habis cerita lucu tentangmu
“Awan….!”
Nyata mimpi yang tiada sempurna di dunia
Hadirkan nuansa gairah
Jiwanya, jiwanya, jiwaku
            Titipkan harap mereka
            Dari awal yang mudah
            Sebut saja
            “Awan….!”
Tinggalkan sepi sebelum gemuruh
Hindari tawa yang meragu
Sadap saja cerita orang-orang sabar
Titian megah rangkaian kisah berwarna
Hanya kamu
“Awan….!:
            Menangislah!
            Itulah harap yang nyata
            Menangislah!
            Tawa dan senyum pastikan meniringimu
            Dari yang menyayangimu
            Selalu merindumu, runtuhkan air mataku
            Pasti kusebut
            “Awan…!”

No comments:

Post a Comment