Sunday, 24 February 2013

Orgasme Sajak XVI


SELECTA MEMORIES
(Dwi Rokhmingtyas)

Kupandang langit malam
Berjuta bintang terpampang
Tapi kemudian kelam
Kurenungi satu sikap menyimpang

Anganku hilang
Terbang ……………
Khayalanpun menangis
Kutepis……………

Ibu………. Ayah ………
Anakmu kini
Terpisah……………
Akukan menjadi apa yang kau ingin



HIDUPKU UNTUKMU
(Dwi Rokhmingtyas)

Indahnya rembulan dengan siarnya
Senyum sang bintang tak berasa
Jiwaku bergetar peluh
Berenaian sekujur tubuh

Wahai……… hidup
Sebentar kau di sini
Tak lama kau mampir
Tapi hidup ……….
Kau begitu berarti

Sejuk sang embun
Menghangatkan cahaya hiidupku
Hidup suatu amanat
Dari tuhan untuk sang umat

EMPAT TAHUN SILAM
(Dwi Rokhmingtyas)

Pusara hati merangkak pergi
Beku langkah merajut sunyi
Gelap mendekap batang mentari
Kiranya di seberang anginkan mati

Kelopak mata menghitung hari
            Berpayung rembulan sekadar mimpi
            Malam pincang senja menari
            Berdayung sampan hanya ilusi
Kau masih di sana bermahkota raja
Bersepatu kaca dihiasi jubah mutiara
Disanjung gelisah kumenanti tombak kata
Adakah kiranya kau taburkan benih cinta di jiwa



HIDUP
(Wiwin Yunita Sari)

Mimpi adalah mimpi
Tak bisa jadi kenyataan
Hidup adalah sebuah oilihan
Yang terkadang menyakitkan
Malam jadi siang
Dan siangpun jadi malam
            Inikah hidup….
            Terkadang terasa menyakitkan
            Ya…. Tuhan,,,,,
            Inikah jalan hidupku
            Untuk senyum pun susah



MIMPI
(Wiwin Yunita Sari)

Pagi menyapa diriku
Dengan setitik embun yang membasahi dedaunan
Setetes embun hilang
Terkena hembusan angin dan cahaya sang surya
            Suara ombak di lautan
            Serasa menjadi kebisingan telingaku
            Perahu-perahu kecil berlayar
            Seakan membawaku ku pulau impian
Cahaya bulan yang redup
Seakan menyinari kegelapan dunia
Ketika bintang bertahta penerang hidupku
Mimpi adalah sebuah mimpi
Yang tak bisa jadi sebuah kenyataan


KEHIDUPAN
(Wiwin Yunita Sari)

Gunung menjulang tinggi
Tanpa ada penyangga
Jalan berkelok-kelok
Dipenuhi padatnya ribuan
Motor dan mobil-mobil mewah
            Di tengah kebisingan dunia
            Di depan sapuan mata
      Ku coba mengartikan hidup

No comments:

Post a Comment