Wednesday, 5 December 2012

Orgasme Sajak IX


SENDIRI
(Eka Rahmawati)

Kapas-kapas putih bertebangan
Awan yang hitam telah menyaksikan
Berayun-ayun tanpa tujuan
Kertas-kertas sobek berantakan
Sampah-sampah berserakan
Ranting-ranting berjatuhan
            Telingaku ingin kututupi
            Suara-suara janganlah kemari
            Ku tak ingin mendengarmu
            Ingin aku ditemani bungan melati
            Harumnya bisa menghiburhati
            Putihnya mensucikan diri
Satu dua orang menegurku
Rumput-rumput ilalang menyapaku
Aku hanya dian terpaku
Egois telah menguasaiku
Berjalan tanpa kenal waktu


MIMPI
(Eka Rahmawati)

Suara kereta api memecah sunyi
Kicauan burung pertanda pagi
Kubuka mata dengan hati-hati
Denyut nadi masih terdengar rapi
Segera melangkahkan kaki

            Alam member salam
            Tanah tak lagi resah
            Langit tak lagi mengigit
            Udara masuk di raga
            Sungguh luar biasa

Pelan-pelan aku berjalan
Lelah takkan kurasakan
Lalu lintas mulai bergoyyang
Banyak orang berlalu lalang
Tapi takpernah kupedulikan

            Matahari selalu mengikuti
            Langkah kaki takkan berhenti
Daun-daun selalu melindungi
Kini aku bisa terbang tinggi
Merah mimpi selama ini



MALAM
(Eka Rahmawati)

Dingin  merasuk di kalbu
Tulang menjadi beku
Jari-jari kini menyatu
Muka terlihat lesu
Hati terasa semu

            Hijau yang sejukkan alam
            Biru air yang mendalam
            Hingga keruas permukaan
            Warna yang menylam
            Garis jai perbatasan
            Antara siang dan malam

Sepi yang kurasakan
Keadaan mulai menerkam
Mimpi berkepanjangan
Tak jadi penghalang
Untuk kenikmatan


MENYUSUR JALAN
(Rokhima)

Terdengar rintihan suaramu
Terlihat lemah gerakan tubuhmu
Berjalan melangkah tak tahu arah
Bersahabat engkau dengan raja siang
Tajam kau memandang wajah ke depan
Tak ada yang terlewat
Satu persatu kau kumpulkan botol-botol berharga bagimu
Demi sesuap nasikaau berjuang untuk hidupmu ….

 SUJUD PERSEMBAHAN
(Rokhima)

Dalam peraduan tak terjamah
Mengusik kenangan penuh sejarah
Dimalam yang penuh berkah
Membawa kedamaian yang berbeda

            Ada gejolak tersendiri yang membenamkan hati
            Mengubur setiap luka yang membelenggu ini
            Namun kemudahan yang menjdai mimpi
            Dan berjalan denan pertaruhan harga diri

Menelungkup dalam bentangan sajadah
Mengharap ketulusan tanpa siksa
Mengucap syukur dalam do’a
Disudut ruang tanpa cahaya

            Air mata perlahan membasahi pipi
Syukur dan do’a kembali pada ilahi
Biarkan mala mini aki disini
Menanti kedamaian yang sejati

HARAPAN
(Rokhima)

Segenggam harapan
Segunung kerinduan
Setinggi hayalan
Sebesar penyesalan
Sebait kenangan
Aku megharapkanmu kembali…

No comments:

Post a Comment