Monday, 26 November 2012

Orgasme Sajak VII


MALING
(Dedi Hermansyah)

Dasar kau maling
Kau maling
Apa yang kau mau
Apa enaknya kau maling
Bukankah itu mendatangkan laknat
Butuh wirid untuk dari tu laknat
Sampai kapan
Sampai ayat-ayat Izroil mendengung
Atau sudahi saja sekarang
Terus mau kau apakan hati yang kau maling
Aku punya pertanyaan
Apakah kau mau maling lagi
Aku kan jaga hati dan aku kan bilang
Kepada teman-temanku
Hati-hati dengan maling ini
Dasar kau maling
Aku lebih suka member
Andai kau mengetuk pintuk di serambiku
Kan kuberi
Tidak seperti sekarang
Untaian tak menghiasi kau di mataku


 
HARTAWA
(Dedi Hermansyah)

Engkau penyebab euphoria bumi manusia
Sogokan dunia itu ahlimu
Ketika lemah kau menguatkan
Pada suatu hari yang biasa
Telinga ini sudah peka akan orgasmemu
Penetrasi yang sedikit demi sedikit membuat berdiri
Tapi kau godaan, yang diwaspadai dalam insane

Kepada Har, apa maumu?
Kapada ta, jelskan maksudmu?
Dan kau wa, siapa kamu?

Khusus untuk kau wa
Dari kabar burung tugasmu hanya berbaring
Tak apalah, memang kau ditakdirkan mirip kejelekan
Tapi kau tenang masih ada rumah untukmu
Di hatiku dan di hati orang itu
Orang yang bervolume besar


ORGASME SAJAK
(Dedi Hermansyah)

Sajak ini selalu bergairah ketika bertemu dengan temannya
Penetrasi diksi menjadi untaian kesan
Karya masku merongrong jemari, merangsang otak
Seperti Putu Wijaya menjadi ketika pagi
Unsuryang ada laksana hakim dengan label timbangannya
Jemari ini terkadang melaknat apa yang dilihat
Namun ia enggan melihat, becermin di kaca
Sebuah keironisankah

Penghakiman itu hanya untuk berkomunikasi eksis
Pengekploitasian daya yang mempunyai satuan watt
Ketika karya masku tampil dengan kostumnya
Ingin aku bercinta dengan kostumnya
Ingin aku bercinta dengan kostumnya
Di situ ada nanai yang montok, ku kan melumatnya
Dengan puas, memainkan dengan bebas.

Dan masku semakin gila menyajikan kostumnya kepadaku
Aku dijadikan gigolo sajak

 
MIMPI
(Uswatun Khasanah)
Malam yang kering taburi langit dengan bintang
Damaikan hati yang mulia mengerang
Pejamkan mata dan bermimpilah sayang

            Karena mimpi kan hiasi ke hiasi tidurmu
Menerbangkanmu ke langit tujuh
Bak bidadari ayu
            Menari dikala senja mulai membiru

Kala kau tebangun sayang
Jangan ada rasa bimbang
Anggap semua baying-bayang
Yang  pasti hilang
Saat mentari mulai menggenang


SATU
(Uswatun Khasanah)
Segenap cintaku
Seindah kalbuku
Yang berkesan tentangmu

            Kubersyukur perah didekatmu
Walau dapat dihitung waktu
Jatuh…
Aku terjatuh
Terpendam dalam surge
Lautan bunga sakura

            Walau kini mulai memudar
            Walau hati tak lagi bergetar

Satu kata ucapmu
Terekam di benakku
Aku dan kamu Satu


KAPAN AKAN HILANG?
(Uswatun Khasanah)

Cinta…
Dia begitu memujimu dengan senantiasa
Anginpun dia rengkuh dengan esa mulia
Mengisi semarak alam semesta
Hingga datang purnama nan jelita

            Baginya cinta adalam embun di putik mawar
Ombak di samudra
            Dan bintang-bintang di langit
            Rindu adalah angin yang berhembus di padang ilalang
            Yang menyapu angan
            Dan tak pasti “Kapan akan Hilang?”

2 comments: