Wednesday, 21 November 2012

Orgasme Sajak V


WANITA TERINDAH
(Ainul Maari)

Wajahmu merahasiakan derita dunis
Dan malam adalah surge bagimu
Kupu-kupu berhamburan mengisi
Lubang bunga-bunga layu
Yang hidup di bawah cahaya merkuri

Leher indah yang menyimpan jeritan
Dada segar yang berisi darah dan nanah
Dan lubang sunyi di bawah pusar
Yang dirimbuni rumput berduri


TOILET
(Ainul Maari)

Kau buang telur-telur mautmu yang sudah menetas
Mengeluarkan suara debur yang begitu keas
Kau terengah, mengerang, mengaduh di atas lubang
Tenpat melepaskan rasa sakit yang tak tertahankan

Kapan dan dimanapun kau selalu mencariku
Aku adalah cermin jiwa dan ruang suci bagimu
Tempat merayakan kesakralan dan serba misteri
Dalam kehidupan yang begitu hampa



CINTA KOSONG
(Ainul Maari)

Cinta seperti penyair berderah dingin
Yang pandai menorehkan luka dan kepedihan
Mempunyai rindu seperti sajak yang dak ada matinya

Kehadiranmu sungguh tak berharga
Mengisi alam cahaya putih
Mengarungi alan yang begitu hampa
Di antara kegelapan malam




MARAH?
(Atik Ika T)

Diamku dari sunyiku
Marahku dari dendamku
Hati terasa panas
Tersulut api yang berkobar

Sabar tiada lagi guna
Hanya emosi yang ada
Dadaku terasa sempit
Tak kuat lagi mennggung beban

Ingin rasanya kuluapkan semua
Biar ku lega
Tapi itu tiada guna
Aku marah pada siapa?
                                                (28 Oktober 2009)



PENANTIAN
(Atik Ika T)
Lelah letih tiada peduli
Gelisah sedih selalu menjamah
Hatiku tersedu
Tanganku menggenggam haru
Penglihatanku terasa mengabur
Cairan panas tersu melelh
Kering menjadi basah

Pintu tebuka tampakkan kekosongan
Kelembutan yang diingini
Kesemuan yang didapat
Sungguh tak enak rasa ini
Rasa gundah gulana kerap kali
Menghujani hati

Sang mata menengok
Jarum pendek panjang serasa terdiam
Enggan tuk bergerak
Seakan menikmati menyaksikan
Diriku yang dibuai kegelisahan
Semua terus begini
                                                (7 Oktober 2009)


KISAHKU
(Atik Ika T)

Hitam menodai sang putih
Hingga putih kini tiada bersih lagi

Tangan beradu dengan pena
Seakan menari di atas kertas

Lelah tiada dirasanya
Pikiran terus diajak berputar

Sang putih menumpuk tinggi
Tiada habisnya cerita yang ditorehkan

Sang tangan terus mengikytiku
Menuliskan semua kisahku . . . .
                                         (28 Oktober 2009)

No comments:

Post a Comment