Wednesday, 21 November 2012

Orgasme Sajak IV


MIMPI YANG TERBELI
(Arga Tri Yudha)

Aku brejalan tanpa arah
Tanpa aku kenal tujuan
Perlindungan di bawah naungan batin yang tak terbebaskan
Seruan… seruan anjing-anjing liar yang membuat dada ini sesak
Sesak dan sesak makin ketakutan, tanpa obat penawar

            Mencoba untuk memecah tabuh mimpi misteri selama ini
Melangkah dan melangkah garis, garis tepi trotoar jalanan
Tapi… sebait kata pun tanpa aku temukan arti jawaban
Apakah ini takdir kehidupan yang telah engkau julurkan, Tuhan

Tapi… apakah pantas dan patut seorang pecundang menyelami arti kehidupan
Akankah masih banyak dan layak kebajikan yang harus diperjuangkan
Tanpa harus… menyuratberita penyesalan kepada Tuhan
Aku bisa meraih mimpi dengan usaha dan doa sepanjang waktu yang aku miliki


MEREKA ANCAMAN RAJA ADIL
(Arga Tri Yudha)

Ketika raja adil memasuki istana camar yang tua
Terdengar celoteh-celoteh kecil membisik kalbu… rindu kemunafikan
Bukan sebuah seruan-seruan manis, atau bisikan pahit permaisuri
Akan tetapi…kabar dari neraka yang mengancam

Salah apa dan dimana raja adil berkata dalam benak
Bukankah syarat raja telah aku penuhi, tuturnya
Para budak-budak telah aku muliakan dengan harta kayaku
Jandadan anak yatim telah aku buka pintu kemuliaan
Ah… percuma, gembar-gembormu sorak malaikat putih
Apakah belum terlintas dalam otak udangmu bagaimana raja
Kekuatan dan kekuasaanmu bukanlah alasan dari neraka yang mengancam
Tetapi kesombongan, keangkuhan menjadi surge jauh bagimu



MISTERI DALAM CINTA
(Arga Tri Yudha)

Ketika roda-roda asmara datang menghampiri tangisan jiwa yang sepi
Bagiku terasa berart, sebuah keadaan
Bukan tipu daya setan cinta yang bernafsu membelai hawa perawan itu
Coretan jiwa yang terbebaskan dari kerasnya kehidupan yang aku rasa

Lihatlah sorot matanya yang tajam, penuh dengan mimik misteri
Dibalik rona cahaya itu tersimpan penuh rahasia
Hanya suatu takdir misteri raja hakiki yang mampu menjawabnya
Bukan ilalang-ilalang yang tersenyum menyaksikannya

Tapi apa dayaku dan upayaku untuk berharao kepada misteri
Aku peluh dan kehilangan akal sehatku bahkan putus asa…
Pantas, patutkah seorang bodoh seperti aku, untuk memilikinya
Tuhan, izinkan aku menyimpan cerita ini dalam diary manisku



PEMUDA
(Lukmanul Hakim)

Wahai pemuda……….
Tenagamu sekuat baja
Ambisimu setinggi gunung
Hasratmu seluas samudra
Geloramu sepanas api

Wahai pemuda……….
Bangunlah negerimu yang telah tidur lama ini
Terpuruk dan terlena dalam buaian manja
Langkah kakimu telah jatuh tertinggal dari sahabat
Yang dulu kau bantu

Wahai pemuda………….
Bangunlah, gerakan ragamu, putarlah otakmu dan
Peraslah peringatmu untuk
Megantar negerimu ke landas
Pacu kegembiraan


KESABARAN
(Lukmanul Hakim)

Buah kasih tak terbatas
Mengalami kerdilnya kepicikan
Berlari mengurai kesabaran
Menepis dendam dan iri hati

Mengupas pahit menjadi manis
Menguliti hitam menjadi putih
Dan mengasihi dendam menjadi kesabaran


RINDU
(Lukmanul Hakim)

Pernah ada dalam hatiku
Rasa rindu yang menggebu
Berdedang hingga menusuk kalbu
Jantung terkulas, terkapar, membisu

Pikiran terbelenggu
Terpasung oleh derasnya rindu
Teramat sangat menggelitik asa
Hingga aku tak berdaya merangkul rindu

No comments:

Post a Comment