Sunday, 14 October 2012

Empat Kerajaan


Oleh Wendy Marshall

            Dahulu kala, terdapat empat orang raja yang sangat tulus memimpin dunia. Masing-masing saling menghargai, dan seluruh dunia begitu bahagia hidup bersama. Di suatu tempat suci dari keempat kerajaan tersebut, empat raja akan bertemu untuk saling bertukar cerita tentang kerajaan mereka.
            Tetapi tiba masanya ketika rakyat mulai bosan dengan keadaan yang begitu damai. Mereka ingin merasakan ketegangan menjadi pemenang dan pecundang, kontras kaya dan miskin.
            Empat raja memutuskan untuk meninggalkan kerajaan mereka dan membiarkan rakyat memimpin diri mereka sendiri. Mereka semua setuju untuk diam-diam berkeliling dunia dan kembali sebagai raja hanya bila rakyat ingin hidup dalam kedamaian lagi.

            Bertahun-tahun kemudian, ketika dunia dan seluruh isinya telah rusak oleh ketamakan, egoisme, dan kemunafikan, seseorang gadis cilik membaca kisah tentang empat orang raja. Ia menyadari bahwa kisah ini bukanlah dongeng. Ia bersumpah bila ia dewasa nanti, ia akan mencari empat raja dan meminta mereka untuk kembali ke kerajaan mereka agar kedamaian bisa kembali tercipta.
            Setelah mencari bertahun-tahun, gadis yang sekarang sudah dewasa itu mencapai puncak gunung yang sudah diberitahukan sebelumnya. Di sana ia menemukan empat singgahsana raja yang diletakkan menghadap bukit di kaki gunung. Gadis itu menunggu di sana, karena menurut legenda setiap tahun para raja berkumpul di tempat itu dan akan saling bercerita tentang kerajaan masing-masing. Bulan-bulan telah berlalu tanpa ada seorang raja pun yang datang.
            Suatu hari, datanglah seorang pengelana tua dan bertanya pada gadis itu tentang tujuannya menunggu di gunung itu. Pengelana ini mendengarkan dengan amat saksama. Kemudian, pengelana memberitahukan gadis itu bahwa para raja hanya akan datang menemuinya bila ia sudah belajar untuk melihat dalam dirinya dan membiarkan kedamaian tunbuh dalam hatinya. Mereka akan menemui sang gadis bila mata sang gadis sudah memancarkan cinta, bila kata-kata yang diucapkan dari mulutnya dipandu oleh kebijaksanaan dan bila tindakan-tindakannya akan memberikan kebahagiaan pada orang lain.
            Pengelana tua itu mengajarkan pada sang gadis kebiasaan yang sudah lama hilang ini, dan sang gadis belajar dengan sangat rajin. Pada hari ia sudah siap, pengelana tua itu pergi meninggalkannya. Saat terbitnya matahari esok hari, empat sosok datang mendekatinya, ratu kebijaksanaan duduk di singgahsananya, dan raja cinta, ratu kedamaian, dan raja kebahagiaan pun duduk di singgahsananya masing-masing. Gadis muda itu mendekati mereka dan menceritakan alasan ia datang.
            Ketika ratu kebijaksanaan memanggilnya, sang gadis mengenali bahwa sang ratu adalah pengelana tua yang dulu mengajarinya. “Pulanglah ke tempat asalmu dan ajarkanlah semua orang hal-hal yang sudah diajarkan padamu di sini. Kamu adalah benih yang nantinya akan menghasilkan buahbuah edamaian di seluruh dunia. Tetap berani. Akan ada banyak tujuan. Tetapi benih harapan akan segera bertumbuh, dan bula semua hati sudah siap, kami akan kembali.
            “Ingatlah, dalam hati semua manusia terdapat hal-hal yang indah. Jangan dibohongi oleh kesedihan dan kebencian. Harta berhargaa yang sudah kamu temui sekarang dalam dirimu akan menyentuh hati orang lain. Jangan pernah berhenti percaya pada dirimu sendiri dan tugasmu akan berhasil diselesaikan dengan cepat”.

No comments:

Post a Comment