Monday, 1 October 2012

BULAN BAHASA


Oleh Gatot Susilo Sumowijoyo

Saudara,
Suatu keajaiban terjadidi negeri ini. Bahasa Melayu, salah satu di antara ratusan bahasa daerah, dikukuhkan menjadi bahasa nasional. Tidak ada pertumpahan darah. Tidak ada korban jiwa. Seluruh rakyat menerimanya dengan senang hati.
Itulah keajaibannya. Sudah jelas, Bahasa Melayu telah berhasil “menundukkan” bahasa-bahasa daerah yang lebih besar tanpa menimbulkan korban apa pun. Selanjutnya, Bahasa Melayu tampil sebagai pemuncak yang meyakinkan.

Saudara,
Pengukuhan itu terjadi pada 28 Oktober 1928 dengan mencetusnya Sumpah Pemuda. Ada alas an yang mendorong lahirnya peristiwa itu.
Yang pertama, Bahasa melayu mempunyai prestise yang tinggi jika dibandingkan dengan bahsa-bahsa derah yang lain. Kalu bahasa-bahasa daerah yang lain (bahsa Jawa, Sunda, Madura, Bali, Bugis, Makasar, Minang, Batak, Banjar, dan sebagainya)hanya dapat bergerak di dalam masyarakatnya sendiri, bahasa Melayu mampu melampaui batas-batas kesukuan. Tidak berlebih-lebihan orang mengatakan, Bahasa Melayu pada masa itu menempatkan diri sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) di nusantara ini.fungsinya yang tidak dimiliki oleh bahasa-bahasa daerah yang lain itu ialah Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Bahasa Melayu menjasi bahasa resmi II setelah bahasa Belanda. Keunggulan ini jugalah yang tidak dipunyai oleh bangsa-bangsa daerah yang lain.
Yang kedua, perjuangan menentang penjajahmembutuhkan persatuan yang kokoh. Tanpa persatuan yang kokoh, apalagi menghadapi penjajah yang tangguh, perjuangan akan mengalami kehancuran. Perasaan senasib dan semangat kemerdekaan yang berkobar, memang, merupakan modal dasar. Namun masih diperlukan lagi tali pengikat agar medal itu tidak berserakan. Tali itu bahasa Melayu.
Itulah yang mendorong bahasa Melayu dikukuhkan menjadi bahasa nasionak dengan nama bahasa Indonesia.
Ternyata, tindakan itu tepat sekali. Setalah pengukuhan itu, bahasa Indonesia mampu menjadi alat perjuangan yang ampuh untuk merebut kemerdekaan.
Saudara,
Dalam perkembangan selanjutnya, bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai bahasa nasional tetapi juga bahasa resmi. Proklamasi Kemerdekaan, sebagai hasil nyata pengorbanan tuntas seluruh rakyat, melahirkan negara RI.sebagai negara, RI perlumemiliki UUD. Lalu lahirlah UUD 1945 yang di dalamnya ditetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara.
Jika ditinjau dari segi fungsi dan arti, bahasa Indonesia merupakan prestasi tertinggi bangsa Indonesia di samping kemerdekaan. Hal ini mungkin tampak setelah bangsa Indonesia menerjuni alam pembangunan. Di sini konsep nasional mengantarkan bahasa Indonesia ke jenjang pertama dengan penampilannya sebagai sarana pembangunan nasional.
Di bidang pertahanan negara, untuk menghadapi tantangan, baik tantangan dai dalam maupun dari luar, dibutuhkan persatuan sebagai daya tangkal nomor satu. Bahasa Indonesia mampu memikul tugas itu. Atas dasar itu, bahasa Indonesia merupakan salah satu unsure ketahanan nasional.
Saudara,
Sejak 1 Oktober 1984 di negara ini berlangsung Bulan Bahasa selama sebulan penuh. Ini dimaksudkan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda. Dalam Bulan Bahasa ini diadakan kegiatan-kegiatan kebahasaan. Misalnya, penyuluhan bahasa Indonesia, penyebarluasan bahasa Indonesia baku, lomba keterampilan berbahasa, kampanye bahasa Indonesia yang benar.
Mengapa kegiatan ini perlu ada? Mengapa kegiatan seperti ini kita laksanakan setiap yahun? Mengapa lembaga yang berurusan dengan hasa Indonesia berbicara nyaring kali ini?

Saudara,
Lima puluh enam tahun yang lalu putra-putri terbaik bangsa memahatkan butir-butir emas pada lembaran kisah nusa. Lima puluh enam tahun yang lalu putra-putra terbaik bangsa menciptakan satu mata rantai kokoh sejarah, yang dipersembahkan kepasa Ibu Pertiwi. Lima puluh enam tahun yang lalu putra-putra terbaik bangsa dengan gagah perkasa menderapkan langkah-langkah kesadaran berbangsa serta menancapkan kuat-kuat panji-panji kemenangan: Kami bangsa terhormat, yang sama terhormatnya dengan bangsa-bangsa lain.
Saudara,
Pada kesempatan yang baik ini sayaperlu menegaskan bahwa bila dirinjau dari segi cultural politis, putra-putra terbaik bangsa itu proklamator kehadiran kita sebagai bangsa.
Bila pada bulan ini kita menguak kembali mereka, kita hanya ingin berkata bangga bahwa kita pernah memiliki pehlawan-pahlawan yang tidak kecil jasanya dan tidak terlukiskan dengan kata-kata. Jasa mereka kini kita nikmati senikmat-nikmatnya.
Jika pada bulan ini kita menguak kembali peristiwa besar lima puluh enam tahun lalu, kita hanya ingin menempatkan diri sebagai ahli waris sejarah yang baik, yang sadar akan kewajibannya terhadap negara.
Kalau pada bulan ini kita berpaling ke masa lalu, kita hanya ingin meyakinkan diri lagi bahwa kita bangsa yang kaya sejarah. Tak pelak lagi, bangsa yang kaya sejarah, apalagi kaya budaya ialah bangsa besar.
Apabila pada bulan ini kita berkisah lagitentang masa lalu, kita hanya ingin menyampaikan salam hangat kepada para pendahulu kita dan dengan suara pasti kita menandaskan bahwa kita tidak hendak melupakan mereka.
Manakala pada bulan ini kita mengumandangkan kembali salah satu butir Sumpah Pemuda yang berbunyi “Kami, putra-putri Indonesia, menjungjung tinggi bahasa persatuan”. Kita hanya ingin mengirimkan senyum manis kepada pecinta-pecinta negeri ini dengan ucapan “Bahasa Indonesia”, di samping Pancasila, merupan salah satu unsur kebudayaan nasional yang benar-benar bercorak nasional, bernafas nasional”. Bila pada bulan ini kami membelai-belaibahasa Indonesia, kami hanya ingin menyanyikan kata-kata “Bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa modern tanpa kehilangankepribadiannya yang berupa kaidah dan patokan yang mantap. Kaidah dan patokan inilah yang menjadi cirri khas bahasa Indonesia. Kalau kaidah dan patokan tidak ada, bahasa Indonesia pun tidak ada”.
Jika pada bulan ini kami merenung bahasa indonesia, kami hanya ingin menumpahkan isi hati kami tentan dampak negatif perkembangan pesat bahasa indonesia. Dampak negatifitu ialah lahirnya kebodohan dan kesombongan yang diperlihatkan oleh “pembunuh-pembunuh” bahasa Indonesia. Mereka ini merobek-robek serta menginjak-injak bahasa Indonesia yang baik dan benar mengalir dari segenap lapisan masyarakat yang melanda segi-segi kehidupan bangsa. Akibatnya, bahasa Indonesia yang baik dan benar terancam. Bulan bahasa pun hadirlah.
            Manakala pada bulan ini kami memancarkan seterang-terangnya cahaya gemerlapan bahasa Indonesia ke seluruh pelosok tanah tumpah darah, kami hanya ingin berbisik kepada Ibu Pertiwi. Bsisik kami, “Jangan sedih, Bunda! Jangan merintih meski ada di antara putramu yang menyakiti hatimu karena tidak dapat menghargai salah satu kekayaan budayamu, bahasa Indonesia! Sunggah, Bunda, jangan sedih! Kami bukan putramu yang perlu kau tangisi! Kami panglima perang di medan laga bahasa Indonesia, yang senantiasa siap memenangkan tiap pertempuran untuk membela martabatmu! Sungguh, Bunda, jangan sedih! Kami benteng bahassa Indonesia, yang mampu melindungi kekayaan budayamu dai hantaman kemunafikan! Jangan sedih, Bunda! Kami mempunyai harga diri. Karena itu, kami yakin pada suatu waktu bahasa Indonesia menjadi tuan rumah yang sebenar-benarnya di negeri ini! hanya restumu yang kami harapkan, Bunda!”

No comments:

Post a Comment